Senin, 20 Maret 2017

Tugas 2 Matematika & IAD

Iva Dhiandra Ritmayola
13516628
1PA12
Tugas 2 : Mitos

Mitos Mengerikan di Balik Keindahan Rafflesia Arnoldii

Di balik keindahannya, puspa langka Rafflesia Arnoldii menyimpan mitos mengerikan yang dipercaya masyarakat Provinsi Bengkulu, terutama masyarakat suku Rejang dan Suku Serawai.

Masyarakat Suku Rejang mendiami daerah perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong. Daerah-daerah itu habitat Rafflesia Arnoldii.

Sebagian warga setempat menyebut bunga ikon Bengkulu itu sebagai bunga Bokor Setan. Sebagian lainnya menyebutnya sebagai Ibeun Sekedei atau Cawan Hantu. Penamaan itu merujuk bentuk bunga yang menyerupai bokor atau tempat sirih.

Suku Rejang memercayai bunga tersebut sebagai bokor sirihnya para penunggu hutan, baik itu berupa makhluk mistis maupun hewan buas, seperti harimau. Karena itu, warga Suku Rejang dulunya sangat menghindari bunga Raflesia di tengah hutan.
"Takut terjadi bala. Karena kalau ada bunga itu di dekat desa atau di pinggir hutan, berarti ada harimau atau setan," ujar Saukani Maryanto, warga suku Rejang Utara, kepada Liputan6.com, Kamis (11/2/2016).

Mitos hantu, setan, hingga harimau yang begitu kuat melekat di benak suku Rejang membuat warga selalu menyingkir jika bertemu bunga itu. Tidak ada warga yang berani mengusik karena mereka takut terkena bala. Karena itu, bunga bangkai bisa berkembang baik di kawasan hutan Bengkulu.

Berbeda dengan Suku Rejang, warga Suku Serawai memberikan nama berbeda bagi bunga raksasa tersebut. Masyarakat setempat menyebut Raflesia Arnoldii dengan sebutan Begiang Simpai atau bunga monyet. Penamaan itu merujuk pada keanehan bunga yang tumbuh tanpa musim.

Ketiadaan daun dan akar yang jelas dari bunga ini membuatnya dipercaya sebagai bunga mistis. Sebagian warga menyimpulkan bunga itu selain milik penunggu hutan, juga bunga yang muncul karena sisa makanan monyet.

"Umumnya warga Suku Serawai, tidak akan mengusik bunga ini. Karena percaya bunga ini, kalau tidak membawa keberuntungan, pasti membawa kesialan," ujar Noca Alinin, warga desa Ulu Talo Kabupaten Seluma.

Misteri Buaya & Harimau Hitam Penunggu Danau di Bengkulu

BENGKULU - Bagi sebagian orang, obyek wisata Danau Dendam Tak Sudah (DDTS), terkesan menakutkan dan menyeramkan. Danau yang terletak di Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu ini belum setenar danau-danau besar lainnya yang ada di Indonesia. Seperti Danau Toba di Medan, Sumatera Utara, Danau Maninjau dan Danau Singkarak di Sumatera Barat serta Danau Ranau di Lampung.

Namun, di danau ini terdapat kisah mistis yang dikisahkan warga sekitar secara turun temurun. Seperti buaya yang konon disebut sebagai penunggu danau oleh orang Suku Lembak. Selain kisah buaya penunggu buaya, juga terdapat Pintu Air atau keramat Sapu Jagat, yang terletak di pintu masuk Danau Dendam Tak Sudah. Danau ini juga memiliki flora unik, seperti Anggrek Pensil (Vanda Hookeriana-red) yang diyakini hanya tumbuh di kawasan ini, juga terdapat Harimau Hitam dan Rusa Kelabu.

Menurut cerita warga setempat, buaya dari DDTS, bertarung melawan buaya asal Lampung, Provinsi Lampung di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Dalam pertarung tersebut, buaya DDTS berhasil mengalahkan buaya asal Lampung. Hanya saja, dalam pertarungan itu, buaya DDTS kehilangan ekor. Konon pada saat itu, buaya buntung DDTS bersumpah pada buaya asal Lampung, dengan kutukan, "Kalau main ke DDTS tidak akan dikasih makan". Konon sejak adanya dendam buaya tersebut, maka danau disebut warga setempat menyebutnya dengan 'Danau Dendam Tak Sudah'.

Warga asli suku Lembak, Syaiful Anwar, mengatakan, buaya yang buntung itu sering muncul menjelang perayaan hari besar, seperti Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, pria penjaga dan perawat Anggrek Pensil di DDTS ini menyebutkan, warga yang mendirikan pondok jualan di sekitar DDTS, menjelang Hari Raya Idul Fitri selalu menghentikan aktivitas. Mulai dari mencari ikan, berjualan serta kegiatan lainnya.

Tidak hanya itu, kemunculan buaya juga dimitoskan, jika muncul ke permukaan akan ada bencana yang melanda Kota Bengkulu. Hal tersebut sempat terjadi beberapa hari sebelum gempa besar yang terjadi di Bengkulu. Saat itu, Bengkulu digoyang gempa dengan kekuatan 7,3 Skala Richter (SR) tahun 2000 dan gempa besar tahun 2007 berkekuatan 7,9 SR, buaya buntung sempat muncul kepermukaan danau.

''Bukan sembarang orang yang bisa lihat buaya buntung di danau dendam tak sudah itu. Bukan juga orang sakti, terkadang orang biasa juga bisa melihat buaya buntung di danau. Saat buaya itu muncul ke permukaan danau, ada yang melihat buaya buntung kecil, ada juga yang melihat buya buntung itu besar dan panjang. Sampai sekarang, buaya itu masih ada di danau,'' kata Syaiful Anwar, saat ditemui Okezone, Sabtu (14/3/2015).

Danau yang saat ini menjadi kawasan Cagar Alam Dusun Besar (CADB) juga memiliki mitos lainnya, kuburan keramat ’Sapu Jagat’ atau keramat Pintu Air. Menurut sejarah, orangtua terdahulu, jika keramat tersebut merupakan keramat orang sakti, yang memilki ilmu. Syaiful mengisahkan, nama keramat Sapu Jagat diambil dari orang terdahulu. Nama keramat tersebut disebut warga Suku Lembak, 'Keramat Pitu Ayo', yang berarti Keramat Pintu Air. Ada juga warga Suku Lembak menyebut nama keramat itu dengan nama Keramat 'Jalan ke Ayo'. Sayangnya, nama penghuni keramat tersebut, belum diketahui secara persis. Mengingat sejarah keramat tersebut, sudah ada sebelum penjajah datang ke Kota Bengkulu.

"Kalau orang sini mau ikut lomba mengaji, azan dan lomba shalat, biasanya pergi Keramat Sapu Jagat. Selain itu, warga suku Lembak usai panen padi, selalu membawa kue apem ke keramat sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi yang melimpah, syukuran ini masih diterapkan warga sini,'' cerita pria kelahiran tahun 1966 ini.

Menurutnya, waktu zaman dulu adanya penjajah Inggris, yang ingin masuk ke kawasan DDTS, untuk menyerbu warga Suku Lembak. Namun, niat penjajah tersebut urung lantaran Keramat Sapu Jagat menghalau, penjajah dengan menurunkan Hujan Abu. Sehingga penjajah pun tidak bisa melintasi jalan DDTS. Ia mengatakan, jika ada orang yang tenggelam saat mandi di DDTS, orang terdahulu juga menyebutkan jika ingin cepat ditemukan, maka meminta petunjuk dengan Allah melalui Keramat Sapu Jagat agar memberikan petunjuk atas keberadaan jasad orang yang tenggelam di dalam DDTS.

''Ini hanya cerita orang terdahulu. Balik lagi, dengan sejarah saya hanya mendengar cerita terdahulu. Kita meminta itu dengan Sang Pencipta, jadi keramat itu sebagai penyampaian doa yang kita minta dengan sang pencipta agar lebih dimudahkan dan diberikan petunjuk,’’ ungkapnya.

Danau yang memiliki luas 577 hektare (Ha) dengan luas permukaan danau sekitar 67 Ha ini, juga terdapat keramat danau, yang konon dijaga oleh Harimau Hitam dan Rusa Kelabu. Pria pelestari Anggrek Pensil di sekitar DDTS ini juga mengisahkan, jika di keramat danau tersebut ada seekor Harimau Hitam dan Rusa Kelabu, menurut cerita, harimau dan rusa tersebut sebagai penjaga warga suku Lembak, di tiga kelurahan. Seperti Kelurahan Dusun Besar, Jembatan Kecil dan Panorama.

''Waktu itu, ada proyek pembangunan jalan di sekitar keramat danau, yang terkena kemarau. Tapi, waktu ingin digusur alat berat tidak bisa berjalan, dari situ maka proyek pembangunan jalan dialihkan ke tempat lain. Ada juga waktu itu, sopir truk yang melihat Harimau Hitam dan Rusa Kelabu sedang berjalan beriring, setelah melihat itu sopir tidak bisa tidur selama lima hari lima malam. Dia baru bisa tidur setelah ada syukuran di keramat danau,'' kisahnya.

Berbagai fauna juga terdapat di danau itu, seperti kera ekor panjang, lutung, burung kutilang, babi hutan, ular phyton, siamang, siput dan berbagai jenis ikan termasuk ikan langka, seperti kebakung dan palau.

Nama DDTS, berawal dari masa penjajahan Belanda yang menduduki Indonesia tahun 1917-an, di mana saat itu, Belanda memutuskan membuat danau buatan untuk mengairi irigasi areal persawahan. Namun, semasa itu Belanda disibukkan dengan perang di Eropa. Sehingga DAM yang dibuat di Danau Dendam Tak Sudah, ditinggalkan begitu saja.

''Sebenarnya, nama 'Danau Dendam Tak Sudah' itu diambil dari nama DAM yang tidak selesai dikerjakan. Namun, dari cerita orangtua dulu ada kisah pertarungan Buaya dari Danau Dendam Tak Sudah dengan Lampung, yang memiliki dendam, makanya disebut dengan Dendam Tak Sudah. Kalau kisah yang selama ini ada yang mengatakan sepasang muda-mudi yang cintanya ditolak, saya rasa itu kurang pas, cerita ini saya peroleh dari orangtua terdahulu asli sini,'' pungkasnya


Mitos tentang Tabot


Sehubungan dengan peristiwa gugurnya Hussein ini munculah kisah-kisah yang bersifat mitos yang berkembang luas di kalangan masyarakat Kota Bengkulu. Konon setelah perang usai, ada seseorang dari Suku Sipai/Sipahi yang tergiur melihat cincin yang berada di tangan Hussein. Ia berniat mengambil cincin tersebut, akan tetapi cincin itu tidak bisa lepas dari tangan Hussein. 

Karena keinginan memiliki cincin tersebut sangat kuat, kemudian orang tersebut memotong jari Hussein dan anehnya setelah jari di potong, cincin tersebut berpindah ke jari sebelahnya, kemudian orang itu memotong lagi jari Hussein dan kemudian cincin tersebut berpindah lagi ke jari sebelahnya begitu seterusnya hingga jari-jari Hussein buntung semua. Tiba-tiba turun dari langit dengan arak-arakan yang membawa serombongan malaikat. Jasad Hussein dimasukkan kedalam peti. Kemudian diterbangkan ke langit oleh seekor Burung Buraq. Namun tanpa diketahui siapapun orang sipai itu ikut dalam arak-arakan tersebut.

Ditengah perjalanan terbang, baru diketahui adanya seseorang yang bergantung di kendaraan tersebut. Orang sipai itu kemudian meminta ampun (Tobat) dan memohon untuk kembali lagi ke bumi. Orang Sipai itu boleh lagi kembali ke bumi asal ia harus membuat kendaraan serupa yang ia tumpangi itu untuk membebasakan ia dari kutukan. Ia harus membuat kendaraan itu sampai dengan 7 turunan. Setelah lewat dari 7 turunan maka ia dan keluarganya akan terbebas dari kutukan. kemudian kendaraan itu diberi nama Tabot yang berasal dari kata Tobat.

Kisah selanjutnya di Bengkulu, setelah diperkirakan sudah lewat 7 turunan maka kaum Sipai berniat untuk menghentikan Upacara Tabot dikarenakan biaya yang dikeluarkan cukup besar. Setelah tidak ada lagi Upacara Tabot. Bengkulu dilanda penyakit besar-besaran. Bukan hanya orang Bengkulu yang banyak meninggal akan tetapi banyak juga orang Inggris yang meninggal pada waktu itu, termasuk para pejabat Inggris. 

Dihubung-hubungkan terjadinya penyakit yang melanda Bengkulu dengan penghentian Upacara Tabot, maka kaum Sipai kembali meminta Taubat kepada tuhan dengan membuat Tabot Coki (Tabot Kecil) dan kemudian di ayak-ayak sepanjang pantai. Dan akhirnya Upacara Tabot tetap berlangsung hingga sampai sekarang.


Danau Kuranding

Datuk Budin mengemukakan ada legenda yang melekat di hati warga mengenai Danau Kuranding. Pada tahun 1.013 tersebutlah sebuah kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut. Sehingga, tak semua warga memahami kisah tersebut secara menyeluruh.

Di kampung tersebut, hanya Datuk Budin yang mengenal cerita itu secara fasih lalu ia tuturkan secara temurun kepada generasi berikutnya. Danau Kuranding berasal dari nama seorang pria, ia berasal dari Kampung Anak Dusun Tinggi, sebuah dusun tua tak jauh dari Desa Tanjung Beringin.

Kuranding tersebut hendak menikahi seorang perempuan yang ia cintai bernama Keraduk. Keraduk sebagai calon mempelai perempuan meminta mas kawin dari Kuranding berupa satu kulak mata ikan atau setara dengan tiga kilogram mata ikan.

Sebuah permintaan yang cukup berat memang. Namun dengan segala upaya akhirnya Kuranding mampu mengumpulkan sejumlah mata ikan sesuai permintaan Keraduk. “Itu tugas berat dari mempelai perempuan dan dilakukan oleh Kuranding,” kata Datuk Budin yang mengaku berteman baik dengan Almarhum Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi itu.

SIa melanjutkan setelah berkeliling, akhirnya didapatilah sebuah kolam berukuran 10x10 meter persegi yang penuh dengan ikan. Dari kolam itulah, Kuranding mampu mengumpulkan tiga kilogram mata ikan sesuai permintaan Keraduk.

Belakangan kolam tersebut terus membesar dan menjadi danau hingga saat ini tempat Kuranding menemukan ikan yang banyak itu diberi nama Danau Kuranding. Selanjutnya, usai menikah pasangan ini silam (hilang secara gaib).

Menurut cerita juga, Kuranding hilang berubah wujud menjadi naga yang menghuni dasar danau, sedangkan Keraduk menjadi elang yang hidup di atas pohon sekitar danau. “Hilangnya pasangan ini persis seperti silamnya kerajaan Kediri atau Majapahit, tak diketahui di mana posisi hilangnya,” lanjut Datuk Budin yang pada 17 Agustus 2014 nanti berusia tepat 70 tahun.

Soal ular naga ini, Irni (53) salah seorang pencari ikan di danau tersebut kerap menemui ular tersebut. “Kalau mencari ikan di danau dan tangkapan kita banyak melebihi kebutuhan maka ular itu akan muncul sebesar pohon kelapa, hanya badannya saja yang diperlihatkan, jika ia muncul itu pertanda kita diminta untuk segera menghentikan mencari ikan karena dinilai sudah cukup jangan berlebihan,” kata Irni.

Tak hanya Irni, banyak warga yang kerap melihat ular yang menurut keyakinan warga adalah naga itu. "Keyakinan warga itu adalah jelmaan dari Kuranding namun ular itu tak pernah memperlihatkan kepalanya, ia hanya melata memperlihatkan tubuh lalu tenggelam lagi," kata warga lain.

Meski diyakini terdapat ular berukuran besar di danau itu, namun warga setempat tak takut untuk mencari ikan menggunakan rakit berhari-hari karena sepanjang sejarah tak pernah ular tersebut menggangu warga.

Ada satu pesan pasangan Keraduk dan Kuranding sebelum silam atau hilang secara gaib. Mereka menegaskan agar danau tersebut dimanfaatkan pada saat musim peceklik saja, cukup untuk makan sehari-hari serta membayar utang bagi warga yang terlilit utang, dan jangan dirusak.

“Masa dulu petani bersawah hanya satu tahun sekali jadi pada saat peceklik danau ini menjadi alternatif dengan mencari ikan, ikannya banyak sampai sekarang,” tambah Datuk Budin.

Kefasihan Datuk Budin menceritakan legenda dan pesan kearifan lokal tersebut kerap mengundang rasa ingin tahu baik itu dari kalangan pejabat hingga masyarakat awam. Tak jarang Datuk Budin diundang oleh kepala daerah atau pejabat tinggi lainnya untuk mendengar kisah tersebut.

Sayangnya, pesan arif tersebut tak dicatat secara rapi dalam bentuk tulis, sehingga kearifan lokal tersebut akan turut pula sirna seiring menuanya Datuk Budin. “Ini cuma sejarah desa yang diwariskan secara bertutur tidak pernah dibukukan atau ditulis,” jelasnya.

Legenda tersebut ternyata menginspirasi warga setempat dengan membuat aturan tak tertulis untuk melindungi mata air misalnya warga dilarang mencari ikan menggunakan racun, membuang sampah di saluran sungai, dan menyentrum ikan.

Selain itu, warga tak diperkenankan membuka perkebunan di wilayah danau terutama lokasi yang masuk dalam kawasan Hutan Lindung Bukti Riki. “Jika ada yang melanggar akan dikenai sanksi mulai dari teguran hingga dipidana ke polisi,” celetuk Tusmin, Kepala Desa Tanjung Beringin.

Warga setempat tak begitu paham apa itu kelestarian lingkungan hidup, pengelolaan sumberdaya air, dan bahasa ilmiah lainnya untuk menjaga air, bagi mereka menjaga Danau Kuranding agar tidak rusak sangat penting, sama halnya menjaga sejarah, budaya dan kehidupan mereka dan generasi mendatang.

Hingga kini, Danau Kuranding merupakan embung (tabungan) air sekaligus sumber mata air bagi warga tersebut tetap terjaga dan lestari. Warga mengaku tak perlu aturan tertulis untuk melindungi mata air itu karena menurut mereka kesepakatan itu telah dipahami oleh seluruh penduduk.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar Tugas 9

Nama  : Intan Justitia Dewi Top of Form Bottom of Form Kelas  : I PA 12 NPM  : 18516337 The Great Blue Hole, Jurang Terdalam ...